Silahkan Baca Artikel Dari Sya Semoga Bermanfaat,Jangan Lupa Komentar Sebagai Jejak Pembaca

Sabtu, 23 Juli 2011

Gunung Api Purba Di Jogjakarta (WISATA)

Gunung Nglanggeran adalah sebuah gunung api purba berumur sekitar 60 juta tahun yang terletak di kawasan Baturagung, bagian utara Kabupaten Gunung Kidul pada ketinggian sekitar 200-700 mdpl.
Teletak di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, tempat wisata ini dapat ditempuh sekitar 15 menit atau sekitar 22 km dari kota Wonosari.
Kawasan ini konon merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan yang secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Berdasarkan hasil sejumlah penelitian dan referensi, gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba, yang keberadaanya jauh sebelum terbentuknya Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.
Nama Nglanggeran berasal dari kata planggaran yang bermakna setiap perilaku jahat pasti ketahuan. Ada pula yang menuturkan, nama bukit berketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dengan kata langgeng artinya desa yang aman dan tentram.
Selain sebutan tersebut, gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini dikenal dengan nama Gunung Wayang karena terdapat gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijaya dan Punakawan. Punakawan dalam tokoh pewayangan tersebut, yakni Semar, Gareng, Petruk, serta Bagong.
Kepercayaan lain menyebutkan bahwa Gunung Nglanggeran sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sebagai sarana meditasi memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa. Air dari gunung Nglanggeran sering diambil abdi dalem dari Kraton Yogyakarta sebagai sarana mohon ketentraman dan keselamatan semua masyarakat DIY. Tak heran, sebagian orang masih mengeramatkan gunung tersebut. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semedi di puncak gunung  ini.

Wisata Puncak Suroloyo Kulonprogo

Matahari muncul dalam warna kemerahan kurang lebih pada pukul 5.00 WIB, menyembul di antara ranting pohon yang berwarna hijau. Sinarnya membuat langit terbagi dalam tiga warna utama, biru, jingga dan kuning. Serentak saat warna langit mulai terbagi, sekelompok burung berwarna hitam mulai meramaikan angkasa dan membuat suara serangga tanah yang semula kencang perlahan melirih.
Empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut.
Itulah pemandangan yang bisa dilihat saat fajar ketika berdiri di Puncak Suroloyo, buykit tertinggi di Pegunungan Menoreh yang berada pada 1.091 meter di atas permukaan laut. Untuk menikmatinya, anda harus melewati jalan berkelok tajam serta menakhlukkan tanjakan yang cukup curam, dan memulai perjalanan setidaknya pada pukul 2 dini hari. Dua jalur bisa dipilih, pertama rute Jalan Godean - Sentolo - Kalibawang dan kedua rute Jalan Magelang - Pasar Muntilan - Kalibawang. Rute pertama lebih baik dipilih karena akan membawa anda lebih cepat sampai. Tentu anda mesti berada dalam kondisi fisik prima, demikian juga kendaraan yang mesti berisi bahan bakar penuh serta bila perlu membawa ban cadangan.
Setelah berjalan kurang lebih 40 km, anda akan menemui papan penunjuk ke arah Sendang Sono. Anda bisa berbelok ke kiri untuk menuju Puncak Suroloyo, namun disarankan anda berjalan terus dahulu sejauh 500 meter hingga menemui pertigaan kecil dan berbelok ke kiri karena jalannya lebih halus. Dari situ, anda masih harus menanjak lagi sejauh 15 km untuk menuju Puncak Suroloyo. Sebuah perjalanan yang melelahkan memang, namun terbayar dengan keindahan pemandangan yang dapat dilihat.
Pertanda anda telah sampai di bukit Suroloyo adalah terlihatnya tiga buah gardu pandang yang juga dikenal dengan istilah pertapaan, yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Suroloyo adalah pertapaan yang pertama kali dijumpai, bisa dijangkau dengan berjalan kaki menaiki 286 anak tangga dengan kemiringan 300 - 600. Dari puncak, anda bisa melihat Candi Borobudur dengan lebih jelas, Gunung Merapi dan Merbabu, serta pemandangan kota Magelang bila kabut tak menutupi.
Pertapaan Suroloyo merupakan yang paling legendaris. Menurut cerita, di pertapaan inilah Raden Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang padanya. Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yosodipuro yang ditulis pada abad 18, Sultan Agung mendapat dua wangsit, pertama bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa sehingga mendorongnya berjalan ke arah barat Kotagede hingga sampai di Pegunungan Menoreh, keduia bahwa ia harus melakuykan tapa kesatrian agar bisa menjadi penguasa.

Menuju pertapaan lain, anda akan melihat pemandangan yang berbeda pula. Di puncak Sariloyo yang terletak 200 meter barat pertapaan Suroloyo, anda akan melihat Gunung Sumbing dan Sindoro dengan lebih jelas. Sebelum mencapai pertapaan itu, anda bisa melihat tugu pembatas propinsi DIY dengan Jawa Tengah yang berdiri di tanah datar Tegal Kepanasan. Dari pertapaan Sariloyo, bila berjalan 250 meter dan naik ke pertapaan Kaendran, anda akan dapat melihat pemandangan kota Kulon Progo dan keindahan panati Glagah.
Usai melihat pemandangan di ketiga pertapaan, anda bisa berkeliling wilayah Puncak Suroloyo dan melihat aktivitas penduduk di pagi hari. Biasanya, mulai sekitar pukul 5 pagi penduduk sudah berangkat ke sawah sambil menghisap rokok linting. Bila anda berjalan di dekat para penduduk itu, aroma sedap kemenyan akan menyapa indra penciuman sebab kebanyakan pria yang merokok mencampur tembakau linting dengan kemenyan untuk menyedapkan aroma.
Selain memiliki pemandangan yang mengagumkan, Puncak Suroloyo juga menyimpan mitos. Puncak ini diyakini sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Dengan mitos, sejarah beserta pemandangan alamnya, tentu tempat ini sangat tepat untuk dikunjungi pada hari pertama di tahun baru.

Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat

Di Yogyakarta adalah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dibangun antara 1756-1790 oleh Sultan Hamengkubuwono I. Kata Jawa Kraton (Keraton atau Karaton) berasal dari kata ke-ratu-an, yaitu dimana raja / ratu kehidupan.
  

Kraton Yogyakarta masih kediaman Sultan cabang Kasultanan Kerajaan mantan Mataram. Pada tahun 1989, Hamengku Buwono X pada takhta dan dia tinggal di istana ini. Kekuatan Sultan adalah murni simbolik dan karena itu terbatas ke istana sendiri dengan hamba-Nya. Ini adalah Kraton tidak lagi kursi kekuasaan, tetapi adalah rumah bagi benda-benda pusaka kerajaan, senjata, kereta, dan hadiah dari para tamu kerajaan. Ada juga sebuah museum yang didedikasikan untuk almarhum Hamengku Buwono kesembilan.
Kraton Yogyakarta adalah reproduksi yang akurat dan hati-hati kosmos Jawa. Setiap akses, bangunan, halaman, pohon dan lapangan memiliki arti simbolik tertentu. Pusat spiritual dari craton adalah Pelataran Kedaton, "raja halaman." Pintu masuk ke Pelataran Kedaton dijaga oleh "menyeringai" raksasa perak. Gambar ini penjaga surgawi, dimodelkan pada tokoh-tokoh besar yang dwarapala di pintu masuk Candi Sewu di luar Yogyakarta. Pada "halaman kerajaan" besar adalah Bangsal Kencono, "ruang singgasana emas".Belakang Bangsal Kencono terletak Bangsal Proboyekso, mana pusaka suci atau Crown Jewels disimpan. Para Kencono Bangsal Proboyekso dan Bangsal membentuk jantung istana dan bangunan hanya ditargetkan ke arah timur, arah kekuasaan dan Matahari terbit

Di sisi utara craton adalah pagelaran, para audiƫntiehal dengan 64 kolom. Ini melambangkan kesempurnaan 64 pilar, yaitu usia Nabi Muhammad. Saat ini, pagelaran tari hampir setiap hari dan pertunjukan gamelan.Kraton tidak hanya istana, tetapi kota, lengkap dengan sekolah dan masjid milik kompleks. Ada lebih dari 25.000 orang. Dalam kompleks adalah pasar burung dan untuk menemukan Istana Air.
Istana Air (Taman Sari) terletak di bagian baratdaya Kraton. Nama "Taman Sari" berarti "Taman Harum" dan mengacu pada pohon buah dan pohon-pohon dengan bunga yang berbau yang merasuki seluruh kompleks. Taman Sari di abad ke-18 sebagai taman hiburan untuk keluarga kerajaan, melarikan diri yang nyaman dan mewah dari menggiling sehari-hari. Kompleks Taman Sari terdapat beberapa kolam renang, air mancur, masjid dan danau bawah tanah yang besar. Ada juga sebuah menara dari mana Sultan Mangkubumi haremnya bisa menonton sambil berenang. Setelah seleksi dari "bathers" telah membuat Mangkubumi kemudian menarik mereka kembali ke dalam kamar menara.Segera setelah kematian Air Istana Mangkubumi jatuh ke dalam keruntuhan. Hari ini sebagian besar ditempati oleh kampung dan merupakan labirin rumah dan gang.
Juga pada kompleks pertama adalah Pasar Taman Sari Ngasem, pasar burung di Yogyakarta, untuk menemukan. Hal ini sebagian besar atas dasar mantan lebih dari Taman Sari. Di pasar burung, Anda dapat menyimpan burung-burung, hewan-hewan kecil lainnya (seperti monyet, kelinci, iguana, kelelawar, salamander) pembelian.

Jumat, 22 Juli 2011

Mengenang Monumen Jogja Kembali

Mengungkap Jogjakarta yang Pernah Menjadi Ibukota RI :

Tarif :

(buka dari Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00)
Harga tiket masuk turis lokal Rp 5.000
Harga tiket masuk turis asing Rp 7.500
Bawa kamera Rp 1.000
Parkir mobil Rp 3.000
Parkir BUS Rp 10.000
Parkir sepeda motor Rp 1.000

Murahkan Dengan Uang Rp 100.000 Kita Udah Bisa Menjelajah Jogjakarta Tempoe Doloe.hehe
 

Monjali terletak di Jalan Lingkar Utara, tepatnya di Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta. Lokasi ini sangat mudah untuk diakses. Bahkan berada di jalan utama sehingga tidak perlu bersusah payah untuk sampai ke tempat ini.
Monumen yang berbentuk gunung ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985. Pembangunan monumen ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Menurut Kepala Urusan Humas, Pemasaran dan Pemanduan Monjali Gunadi, empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, monumen setinggi 31,8 meter ini selesai dibangun. Kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Memasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.
Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum dan menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Jogjakarta menjadi ibukota RI. Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.
Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Presiden ke Jogjakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di dalam bangunan, berisi sepuluh diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, Serangan Umum Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Jogjakarta.
Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.
Selama ini perjuangan bangsa hanya bisa didengar melalui guru-guru sejarah di sekolah, atau cerita seorang kakek pada cucunya. Monumen Jogja Kembali memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana kemerdekaan itu tercapai. Melihat berbagai diorama, relief yang terukir atau koleksi pakaian hingga senjata yang pernah dipakai oleh para pejuang kemerdekaan. Satu tempat yang akan memuaskan segala keingin tahuan tentang perjalanan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan .

Pantai Depok Dengan Makanannya

Di antara pantai-pantai lain di wilayah Bantul, Pantai Depok-lah yang tampak paling dirancang menjadi pusat wisata kuliner menikmati sea food. Di pantai ini, tersedia sejumlah warung makan tradisional yang menjajakan sea food, berderet tak jauh dari bibir pantai. Beberapa warung makan bahkan sengaja dirancang menghadap ke selatan, jadi sambil menikmati hidangan laut, anda bisa melihat pemandangan laut lepas dengan ombaknya yang besar.
Nuansa khas warung makan pesisir dan aktivitas nelayan Pantai Depok telah berkembang sejak 10 tahun lalu. Menurut cerita, sekitar tahun 1997, beberapa nelayan yang berasal dari Cilacap menemukan tempat pendaratan yang memadai di Pantai Depok. Para nelayan itu membawa hasil tangkapan yang cukup banyak sehingga menggugah warga Pantai Depok yang umumnya berprofesi sebagai petani lahan pasir untuk ikut menangkap ikan.



Sejumlah warga pantai pun mulai menjadi "tekong", istilah lokal untuk menyebut pencari ikan. Para tekong melaut dengan bermodal perahu bermotor yang dilengkapi cadik. Kegiatan menangkap ikan dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat, yaitu Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Di luar musim paceklik ikan yang berlangsung antara bulan Juni - September, jumlah hasil tangkapan cukup lumayan.
Karena jumlah tangkapan yang cukup besar, maka warga setempat pun membuka Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang kemudian dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bernama Mina Bahari 45. Tempat pelelangan ikan di pantai ini bahkan menerima setoran ikan yang ditangkap oleh nelayan di pantai-pantai lain. Saat YogYES berkunjung, tempat pelelangan ini tengah ramai dikunjungi oleh para wisatawan.
Seiring makin banyaknya pengunjung pantai yang berjarak 1,5 kilometer dari Parangtritis ini, maka dibukalah warung makan-warung makan sea food. Umumnya, warung makan yang berdiri di pantai ini menawarkan nuansa tradisional. Bangunan warung makan tampak sederhana dengan atap limasan, sementara tempat duduk dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Meski sederhana, warung makan tampak bersih dan nyaman.
Beragam hidangan sea food bisa dicicipi. Hidangan ikan yang paling populer dan murah adalah ikan cakalang, seharga Rp 8.000,00 per kilogram, setara dengan 5 - 6 ekor ikan. Jenis ikan lain yang bisa dinikmati adalah kakap putih dan kakap merah dengan kisaran harga Rp 17.000,00 - Rp 25.000,00 per kilogram. Jenis ikan yang harganya cukup mahal adalah bawal, seharga Rp 27.000,00 - Rp 60.000 per kilogram. Selain ikan, ada juga kepiting, udang dan cumi-cumi.
Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman seperti yang YogYES cicipi, hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.
Puas menikmati hidangan sea food, anda bisa keluar pantai dan berbelok ke kanan menuju arah Parangkusumo dan Parangtritis. Di sana, anda akan menjumpai pemandangan alam yang langka dan menakjubkan, yaitu gumuk pasir. Gumuk pasir yang ada di pantai ini adalah satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan merupakan suatu fenomena yang jarang dijumpai di wilayah tropis. Di sini, anda bisa menikmati hamparan pasir luas, bagai di sebuah gurun.
Gumuk pasir yang terdapat di dekat Pantai Depok terbentuk selama ribuan tahun lewat proses yang cukup unik. Dahulu, ada beragam tipe yang terbentuk, yaitu barchan dunecomb duneparabolic dune danlongitudinal dune. Saat ini hanya beberapa saja yang tedapat, yaitu barchan dan longitudinal. Angin laut dan bukit terjal di sebelah timur menerbangkan pasir hasil aktivitas Merapi yang terendap di dekat sungai menuju daratan, membentuk bukit pasir atau gumuk.
Untuk menikmati hidangan laut sekaligus pemandangan gumuk pasir ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda 
dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan.


http://www.ryocyber.com/index.php?option=com_content&view=article&id=89:pantai-depok&catid=51:wisata-pantai&Itemid=79

Goa Cerme Bantul


Jelajah goa ternyata mempunyai keasyikan tersendiri yang mungkin akan sulit dilupakan bagi Pencinta alam dan wisatawan. Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata menyimpan banyak pontensi goa yang dapat dikembangkan sebagai tempat wisata. Disini penulis mencoba menginformasikan sedikit banyak goa-goa yang telah dikembangkan sebagai tempat wisata.

Goa selarong
Alamat : Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul

Di masa silam Goa Selarong merupakan markas besar dari laskar pangeran Diponegoro, dalam perjuangan melawan pemerintah Belanda antara tahun 1825-1830.beliau pindah ke Goa Selarong setalah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda. Saat ini goa ini menjadi salah satu obyek wisata peningalan sejarah dengan pemandangan alam yang indah serta cocok untuk digunakan sebagai bumi perkemahan.
Objek ini berlokasi sekitar 14 km arah utara Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul dan berada di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan ciri khas dari objek tersebut.
Di sekitar Gua Selarong terdapat sentra kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan lain-lain. Pemerintah Kabupaten Bantul sedang mengembangkan kawasan Gua Selarong sebagai objek agrowisata dengan tanaman jambu biji

Goa Cerme
Alamat : Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Goa Cerme terletak kira-kira sekitar 15 Km tenggara kota Bantul. Panjang gua ini seluruhnya kurang lebih 1,2 Km dan di dalamnya mengalir sungai bawah tanah yang aman buat kegiatan Caving. Ujung dari gua ini berupa Sendang diwilayah panggang.selain gua utama ada gua lain yang digunakan untuk tempat meditasi seperti Goa dalang, Goa Ledhek, Goa Badhut, dan Goa Kaum. Untuk mencapai depan gerbang Goa, pengunjung harus mendaki bukit melesati skitar759 anak tangga. Pada malam harinya pemandangan kota di sebelah utaranya terlihat indah dengan gemerlap lampu.

Goa Cerme berasal dari kata cerme berasal dari kata ceramah yang mengisyaratkan pembicaraan yang dilakukan walisongo. Gua Cerme dulunya digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Selain itu, gua Cerme juga digunakan untuk membahas rencana pendirian Masjid Agung Demak. Setiap Senin atau Selasa wage, selalu diadakan upacara syukuran untuk meminta berkah kepada Tuhan.

Goa ini termasuk goa yang panjang dan dalam. Daya tarik utama wisatawan dari Goa Cerme adalah keindahan stalagtit dan stalagmit serta banyaknya kelelawar di dalam gua selain aliran air bawah tanah tentunya. Lantai goa digenangi oleh air tanah dengan rata rata kedalaman air sekitar 1 hingga 1,5 meter. Goa ini terdiri dari banyak ruangan, seperti panggung pertemuan, air zam zam, mustoko, air suci, watu kaji, pelungguhan / paseban, kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung.

Goa Gajah
Alamat : Dusun Lemahbang. Mangunan, Dlingo, Bantul

Goa Gajah adalah goa karst yang merupakan bagian dari pegunungan seribu. bentuk goa ini horisontal dengan kedalaman yang sampai sekarang belum diketahui sehingga menjadi tantangan tersendiri utk penjelajahan goa. disebut goa gajah karena goa ini memiliki ciri adanya gumpalan batu yang menyerupai gajah.
Goa Gajah terletak sekitar 21 Km sebelah tenggara kota Bantul, letaknya di dusun lemahbang, mangunan, bantul.

Goa Jepang
Alamat : Dusun Ngreco, Desa seloharjo,pundong,bantul

Goa ini terletak sekitar 20 Km selatan kota bantul, tepatnya di dusunNgreco dan poyahan, desa Seloharjo, kecamatan pundong. Merupakan Goa buatan peninggalan Jepang zaman Perang Dunia II yang berfungsi sebagai sarana pertahanan.
Goa jepang merupakan peninggalan perang dunia IIdan berfungsi sebagai sarana pertahanan militer padea tahun 1942-1945 untuk melawan tetneara sekutu.disekitar kawasan ini ditemukan 18 bangunan bungker yang mempunyai fungsi beragam,misal sebagai tempat pengintaian, ruang tembak,ruang pertemuan, gudang dan dapur.

Goa ini dibuat juga dibangun untuk menghadapi serangan sekutu yang diperkirakan datang melalui pantai selatan. dibangun dengan bahan beton bertulang, semen dan batu padas. bunker-bunker yang ada dibangun saling berhubungan dan dihubungkan dengan parit perlindungan setinggi 1 m.

Taman Wisata Gua Kiskendo
Alamat : Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo

Objek wisata Goa Kiskendo ini merupakan salah satu objek wisata pegunungan yang berada di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo berjarak kurang lebih 38 km dari Yogyakarta atau 21 km dari Kota Wates. Goa Kiskenda merupakan goa alam dibukit Menoreh. Menurut legenda ditempat ini pernah terjadi peperangan antara Sugriwo-Subali dan Mahesosuro-Lembusuro. Gambar relief perjuangan mereka terdapat di mulut goa yang mengambarkan kebenar an dapat mengalahkan kejahatan dan keangkuhan. Dilokasi Goa Kiskendo ini juga terdapat Goa Sumitro yang mempunyai mulut vertical dan horizontal. Legenda Goa Sumitro adalah sebagai tempat pertapaan Bambang Sumitra putra Arjuna dalam cerita Mahabaratha.
Di dalam goa Kiskendo ini banyak sekali dijumpai stalaktit dan stalagmit yang indah bentuknya. Dalam goa ini juga terdapat aliran air sungai bawah tanah yang dalam cerita pewayangan menggambarkan pertempuran antara Subali-Sugriwa dan Mahesasura- Lembusura yang mengalirkan air berwarna merah dan putih.









 

Baca Juga